Berita  

SMPN 2 Mandirancan menerapkan Literasi berbasis sakartu

Dr. Aryanto, MP. d ( Kepala Sekolah)

KuninganAksi.com _ Pendidikan menempati peran yang sangat penting dalam membentuk generasi muda yang berkualitas. Salah satu tahapan pendidikan yang krusial adalah pendidikan menengah pertama atau Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pendidikan SMP memberikan dasar yang kokoh bagi siswa untuk mengembangkan potensi mereka secara akademik, sosial, dan emosional.

Sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pasal 1 ayat 1 yang menyebutkan bahwa guru harus dapat melaksanakan pembelajaran yang mengarahkan peserta didiknya secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, Pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan lainnya yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pada hakekatnya, Pendidikan karakter tersebut didefinisikan sebagai usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik ( habituasi ) sehingga peserta didik mampu berpikir dan bertindak bersandarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Pendidikan Karakter harus selalu diajarkan, dijadikan kebiasaan, dilatih secara konsisten dan kemudian barulah menjadi karakter bagi peserta didik.

Hal tersebut di sampaikan kepala SMPN 2 Mandirancan Dr.Ariyanto MPd di ruang kerjanya saat di wawancara terkait dengan program sekolah.

Menurutnuya, Guru sangat berperan dalam penguatan pendidikan karakter bagi anak didiknya, dimana guru harus mencontohkan apa yang disampaikan dan akan ditiru oleh anak didiknya.

Memurut pantauan redaksi bahwa sekolah tersebut mempunyai program yang sangat unik dimana seluruh peserta didik di wajibkan sebelum berangkat kesekolah berwudlu terlebih dahulu yang dinamakan program  gardu pagi ( gerakan berwudlu pagi untuk pendidikan religi ).

Menurutnya program tersebut adalah salah satu kesimpulan dari visi Sekolah,lanjut  aryanto dengan siswa mempunyai wudlu seharian akan lebih terjaga dari sikap sikap negativ ” minimalnya mereka bisa jaga jarak dengan lawan jenis dan orang yang menpunyai wudlu akan lebih mudah menerima ilmu dalam pembelajaran” ungkapnya

Saat di singgung terkait dengan minat dan bakat peserta didik ,ia mengungkapkan bahwa    pihak sekolah mempunyai wadah untuk menuangkan kreatifitas peserta didik melalui program siswa satu karya berbentuk buku atau literasi berbasis sakartu yang mana program tersebut sudah terealisasi semenjak kepemimpinan nya.

Kata literasi saat ini nampaknya merupakan salah satu kata yang cukup seksi, kata
yang banyak digunakan, diperbincangkan, dan mampu menyedot perhatian banyak kalangan.
Banjir kata literasi bukan hanya terjadi di forum-forum ilmiah, diskusi di kampus dan sekolah, talk show di media elektonik (radio atau televisi), dicanangkan sebagai gerak, tulisan opini di media cetak; tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari melalui komunikasi persemukaan. Literasi menjadi
kata yang banyak diucapkan, bukan saja oleh orang-orang yang bergulat di dunia pendidikan
(seperti dosen, guru, kepala sekolah, pengawas, dekan, rektor, dan menteri), pakar atau yang sedang
belajar untuk menjadi pakar, pengamat pendidikan atau yang sedang belajar menjadi pengamat, peneliti, birokrat pendidikan tetapi tak jarang pula oleh orang  awam.

literasi berbasis sakartu ini mendapat dukungan dari semua pihak yang mana saat ini seluruh para peserta didik sudah membuat karya tulis berbentuk buku.

” Buku tersebut hasil siswa yang dikembangkan melalui ekstrakulikuler,di kembangkan lagi dalam setiap lomba,dokumentasi portofolio anak dan hasil mereka di rangkum dalam sebuah karya tulis” pungkasnya.